Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat
Langkah Besar untuk Peradaban: Hibah Tanah dan Pembangunan Kampus
Gerakan besar kembali ditorehkan oleh tokoh Muhammadiyah asal Kerinci. Pada Sabtu, 24 Maret 2026, menjadi momentum bersejarah bagi Persyarikatan Muhammadiyah dengan dilaksanakannya penyerahan hibah tanah oleh Murady di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Cikditiro, Yogyakarta.
Acara ini dihadiri langsung oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si, bersama jajaran pimpinan lainnya, termasuk Agung Danarto, Dahlan Rais, Sayuti, Prof. Bambang Setiaji, hingga Rektor UMY, Prof. Nurmandi.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua STKIP Muhammadiyah Sungai Penuh, Prof. Dr. Mahli Zainuddin Tago, memaparkan perkembangan kampus serta rencana besar pengembangannya.
Murady menegaskan bahwa hibah tanah ini bukan sekadar penyerahan aset, melainkan investasi akhirat yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Jika hanya lahan kosong, ia bisa jadi tempat ternak. Tapi jika berdiri kampus, ribuan mahasiswa hadir dan menggerakkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Jejak Emosional: Dari Anak Kampung ke Dermawan Umat
Keputusan Murady tidak lahir secara instan. Ada perjalanan panjang penuh nilai historis dan emosional.
Sejak kecil di Kumun, ia telah bersentuhan dengan Muhammadiyah. Dalam keterbatasan hidup—ditinggal ibunda sejak usia dini—Murady kecil aktif membantu kegiatan ranting Muhammadiyah.
Saat merantau ke Surabaya, ia dibekali kartu anggota Muhammadiyah oleh tokoh setempat, Buya Usman, sebagai “jaminan sosial” jika menghadapi kesulitan.
Kini, setelah sukses sebagai pengusaha nasional di bidang perminyakan, transportasi, hingga kontraktor pelabuhan, Murady memilih “membayar kembali” jasa Muhammadiyah melalui hibah strategis ini.
Gayung Bersambut: Muhammadiyah Siap Eksekusi Cepat
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyambut penuh apresiasi.
Ia menegaskan bahwa hibah ini sejatinya diperuntukkan bagi umat dan bangsa, bukan sekadar organisasi.
Lebih dari itu, Haedar menekankan nilai spiritual hibah tersebut:
- Amal jariyah
- Ilmu yang bermanfaat
- Lahirnya generasi saleh
Ia juga meminta agar pembangunan kampus segera direalisasikan secara cepat dan terukur.
“Jika dimulai dengan energi positif, maka jalan akan dibukakan,” tegasnya.
Langkah lanjutan pun telah disiapkan, mulai dari proses legalitas hingga pembentukan panitia pembangunan, dengan Murady dipercaya sebagai ketua.
Dua Tokoh, Satu Visi: Membangun Kerinci Berkemajuan
Kolaborasi Murady dan Mahli Zainuddin Tago menjadi kisah inspiratif tersendiri.
Awalnya, rencana pengembangan kampus hanya berfokus pada pemanfaatan gedung eksisting. Namun, kejutan datang ketika Murady justru menawarkan hibah lahan strategis di pusat Kota Sungai Penuh.
Dengan satu syarat tegas:
kampus harus dibangun maksimal dalam dua tahun.
Murady dikenal sebagai sosok berpengaruh—pengusaha sukses dengan jaringan SPBU, kapal tanker, serta proyek pelabuhan di berbagai daerah. Di dunia politik, ia juga pernah berkiprah di tingkat nasional sebagai bendahara partai dan anggota DPR RI.
Sementara itu, Prof. Mahli dikenal sebagai akademisi visioner, pekerja keras, dan tokoh intelektual Muhammadiyah yang memilih pulang kampung untuk membangun daerahnya.
Harapan Besar: Kampus sebagai Pusat Perubahan
Sinergi dua tokoh ini diharapkan melahirkan pusat pendidikan unggulan yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal.
Kampus Muhammadiyah Kerinci nantinya diproyeksikan menjadi:
- Pusat pendidikan modern
- Motor penggerak ekonomi masyarakat
- Simbol kebangkitan daerah
Lebih dari itu, ini adalah warisan peradaban.
Penutup
Apa yang dilakukan Murady dan Mahli Zainuddin Tago bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan gerakan peradaban berbasis keikhlasan, ilmu, dan kebermanfaatan.
Dari Kerinci untuk Indonesia.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.
