Aku Malu › Opini › Berita
Opini

Oleh: Advokat Buya Ki Jal Atri Tanjung Rajo Amat Mudo

Sekretaris Umum MUI Sumatera Barat

AKUMALU.COM — Dalam khazanah kearifan Minangkabau, ungkapan “biduk lalu, kiambang bertaut” menyimpan pesan yang sangat dalam. Ia bukan sekadar peribahasa, tetapi gambaran tentang bagaimana perbedaan, gesekan, bahkan perselisihan seharusnya berakhir: kembali bertaut demi kepentingan yang lebih besar.

Dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi, perbedaan pandangan adalah keniscayaan. Namun, perbedaan tidak semestinya berubah menjadi permusuhan berkepanjangan. Setelah biduk berlalu, kiambang mesti kembali bertaut. Setelah perbedaan selesai diperdebatkan, persaudaraan dan tujuan bersama harus kembali menjadi pegangan.

Di sinilah kualitas kepemimpinan diuji.

Pemimpin adalah Nakhoda, Bukan Pemilik Biduk

Biduk dapat dimaknai sebagai kepemimpinan, pengurus, dan penggerak organisasi. Sementara kiambang menggambarkan anggota, masyarakat, serta seluruh elemen yang menopang perjalanan organisasi.

Pemimpin memang berada di depan untuk menentukan arah, tetapi ia bukan pemilik tunggal perjalanan. Tanpa anggota dan masyarakat yang bergerak bersama, kepemimpinan akan kehilangan kekuatannya.

Sebaliknya, anggota tanpa arah kepemimpinan yang jelas berpotensi tercerai-berai dan mudah terbawa arus kepentingan.

Karena itu, hubungan pemimpin dan anggota seharusnya tidak dibangun atas pola atasan dan bawahan semata, melainkan melalui kepercayaan, tanggung jawab, keteladanan, serta kesadaran bahwa semuanya sedang berada dalam satu biduk perjuangan.

Trilogi Kepemimpinan sebagai Perekat Harmoni

Dalam menjaga biduk tetap pada jalurnya, seorang pemimpin perlu menghidupkan kembali filosofi kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani.

Pertama, Ing Ngarso Sung Tulodo — di depan memberi teladan. Pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara atau memberi instruksi. Kejujuran, disiplin, kerja keras, tanggung jawab dan akhlak harus terlebih dahulu terlihat dari dirinya. Sebab anggota lebih mudah mengikuti apa yang dilakukan pemimpinnya daripada sekadar mendengar apa yang diperintahkannya.

Kedua, Ing Madya Mangun Karso — di tengah membangun semangat. Pemimpin harus hadir bersama anggota. Mendengar keluh kesah, membuka ruang dialog, membangkitkan semangat, serta menghidupkan gotong royong. Kepemimpinan akan kehilangan ruh ketika pemimpin hanya memberi perintah dari kejauhan.

Ketiga, Tut Wuri Handayani — di belakang memberi dorongan. Pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang menguasai seluruh panggung. Ia justru mampu memberikan kepercayaan, mendelegasikan tanggung jawab, menghargai gagasan, dan membuka ruang bagi generasi berikutnya untuk tumbuh.

Ketiga prinsip tersebut menjadikan pemimpin bukan sekadar pengambil keputusan, tetapi perekat, pengarah, sekaligus penguat organisasi.

Namun, trilogi kepemimpinan itu harus pula ditopang oleh tiga nilai penting: transparansi, keadilan, dan adab. Tanpa ketiganya, prasangka mudah tumbuh dan kepercayaan perlahan runtuh.

Harmoni Bukan Berarti Semua Harus Sepakat

Ada kekeliruan ketika harmoni dimaknai sebagai keadaan tanpa kritik dan tanpa perbedaan pendapat. Padahal organisasi yang sehat justru memberikan ruang bagi perbedaan.

Harmoni bukan berarti semua orang harus memiliki pikiran yang sama. Harmoni adalah kemampuan menyatukan berbagai pikiran menuju tujuan yang sama.

Musyawarah harus hidup. Kritik harus diberi tempat. Pemimpin harus bersedia mendengar, sementara anggota juga berkewajiban menyampaikan pandangan dengan adab dan tanggung jawab.

Ketika kepercayaan tumbuh, musyawarah berjalan dan gotong royong menjadi budaya, energi organisasi tidak akan habis untuk pertikaian internal. Energi itu dapat diarahkan untuk menjalankan program dan memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Ego, Fitnah dan Ketidakadilan Merusak Pertautan

Ada tiga ancaman besar yang sering membuat “biduk” dan “kiambang” menjauh.

Pertama, ego dan kesombongan. Merasa paling benar, paling berjasa, atau paling berhak didengar adalah pintu awal keretakan.

Kedua, fitnah dan perpecahan. Informasi yang tidak terverifikasi, politik internal, saling mencurigai, serta kebiasaan membicarakan kelemahan orang lain dapat menghancurkan kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.

Ketiga, ketidakadilan. Ketika sebagian pihak merasa selalu diistimewakan sementara yang lain terus diabaikan, rasa memiliki terhadap organisasi akan melemah.

Dampaknya nyata. Anggota menjadi apatis, kerja kolektif melemah, program terbengkalai, dan tujuan besar akhirnya tinggal menjadi slogan.

Saatnya Kembali Bertaut

Jika perbedaan telah terjadi, jalan keluarnya bukan memperpanjang luka. Semua pihak harus mempunyai keberanian untuk kembali bertaut.

Pemimpin harus kembali menjadi teladan dan membuka ruang komunikasi. Anggota mendukung setiap kebaikan sekaligus tetap berani mengingatkan dengan adab. Tokoh dan penasihat harus berdiri sebagai penengah, bukan memperbesar pertentangan.

Generasi muda juga memiliki posisi strategis. Mereka harus menjadi jembatan yang menghadirkan kreativitas dan gagasan baru, bukan ikut mewarisi konflik yang tidak produktif.

Pada akhirnya, semua kembali kepada dua kekuatan batin: qana’ah dan ikhlas. Qana’ah mengajarkan manusia menerima peran dan amanah dengan lapang dada, sedangkan keikhlasan menjaga perjuangan agar tidak semata-mata berorientasi kepada jabatan, pengakuan ataupun popularitas.

Kepentingan Bersama Harus Lebih Besar

Organisasi tidak boleh kehilangan tujuan hanya karena perbedaan personal. Kepentingan masyarakat tidak boleh dikorbankan karena ego kelompok. Persaudaraan juga tidak seharusnya runtuh hanya karena perbedaan pandangan yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui musyawarah.

Biduk boleh berlalu. Riak air boleh muncul. Perbedaan boleh terjadi.

Namun, kiambang harus kembali bertaut.

Sebab kekuatan sebuah organisasi bukan hanya terlihat ketika semuanya berjalan tenang, melainkan ketika ia mampu menyelesaikan perbedaan, memulihkan kepercayaan, lalu kembali berjalan bersama.

Mari menjaga harmoni tanpa mematikan kritik, menjaga persatuan tanpa menghilangkan perbedaan, serta menjaga kepemimpinan dengan keteladanan, keadilan dan adab.

Dengan itulah tujuan besar dapat diwujudkan: organisasi yang maju, masyarakat yang sejahtera, dan nilai-nilai yang tetap terjaga.

Allah SWT mengingatkan dalam QS. Ali Imran ayat 103 agar umat berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai.

Pesannya tetap relevan sepanjang zaman: boleh berbeda dalam pikiran, tetapi jangan tercerai dalam tujuan dan persaudaraan.

Wallahu a’lam bishawab.

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *