Hendri Gunawan
“Tidak semua yang kita cintai ditakdirkan untuk tinggal.
Sebagian hadir untuk mengajarkan kita arti kehilangan,
sebagian lagi pergi agar kita belajar menemukan diri sendiri.”
PROLOG
Perempuan di Ujung Senja
Senja selalu punya cara untuk menyimpan rahasia.
Di sebuah tepian pantai yang menghadap Samudra Hindia, seorang lelaki berdiri seorang diri. Angin membawa aroma laut, sementara matahari perlahan tenggelam di balik garis cakrawala.
Namanya Raka.
Di tangannya ada sebuah benda kecil yang sudah bertahun-tahun ia simpan: sebutir mutiara putih dalam kotak kayu tua.
Mutiara itu bukan sekadar perhiasan.
Di balik benda kecil itu tersimpan sebuah nama.
Alya.
Perempuan yang pernah menjadi rumah bagi hatinya.
Perempuan yang pernah berjanji akan menemaninya sampai tua.
Perempuan yang kemudian menghilang tanpa meninggalkan penjelasan.
Raka menutup telapak tangannya.
“Kalau waktu bisa diulang,” bisiknya, “aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
Angin menjawab dengan kesunyian.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya.
Satu kalimat.
Aku pulang.
Raka terdiam.
Tangannya gemetar.
Nama pengirimnya membuat seluruh kenangan yang selama ini ia kubur kembali hidup.
Alya.
BAB I
Pertemuan yang Tidak Direncanakan
Dua belas tahun sebelumnya…
Hujan baru saja berhenti ketika Raka berlari menyusuri jalan kecil di sebuah kampung.
Ia terlambat.
Hari pertama kuliah.
Dan seperti biasa, ia tidak punya cukup uang untuk membeli payung.
“Hebat!” gumamnya sambil mengusap rambut yang basah.
Ketika melewati sebuah kedai kecil, matanya menangkap seorang perempuan yang sedang duduk sendirian.
Perempuan itu mengenakan jilbab putih.
Di depannya ada secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya beberapa detik.
Tetapi kadang-kadang, hidup memang mengubah arah seseorang hanya dalam beberapa detik.
Perempuan itu tersenyum.
Raka membalas senyum itu.
“Kenapa senyum?” tanya perempuan tersebut.
Raka gugup.
“Karena… saya baru saja menemukan alasan untuk berhenti berlari.”
Perempuan itu tertawa.
“Gombal.”
“Serius.”
“Siapa namamu?”
“Raka.”
“Aku Alya.”
Sederhana.
Tidak ada musik.
Tidak ada bunga.
Tidak ada kata-kata romantis.
Hanya dua manusia yang bertemu secara tidak sengaja.
Namun sejak hari itu, kehidupan mereka tidak pernah benar-benar sama.
BAB II
Mutiara
Alya memiliki sebuah kebiasaan.
Setiap kali sedih, ia pergi ke pantai.
“Kenapa selalu ke sini?” tanya Raka suatu sore.
“Karena laut tidak pernah bertanya kenapa aku menangis.”
Raka tersenyum.
“Kalau aku?”
Alya menoleh.
“Kamu berbeda.”
“Berbeda bagaimana?”
“Kamu selalu bertanya.”
“Karena aku peduli.”
Alya terdiam.
Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.
Sebuah kalung sederhana dengan liontin berbentuk mutiara.
“Ini milik ibuku,” katanya.
“Kenapa diberikan kepadaku?”
“Bukan untukmu.”
Raka tertawa.
“Lalu?”
“Suatu hari nanti, kalau aku sudah menemukan orang yang benar-benar bisa menjagaku, mutiara ini akan kuberikan kepadanya.”
Raka menatap mutiara itu.
“Berarti aku harus menunggu?”
Alya tersenyum.
“Kalau kamu sabar.”
Sejak saat itu, Raka mempunyai satu impian sederhana:
menjadi lelaki yang pantas menerima mutiara Alya.
BAB III
Janji
Cinta mereka tumbuh tanpa banyak suara.
Raka bekerja sambil kuliah.
Alya membantu keluarganya.
Mereka tidak memiliki kemewahan.
Mereka hanya memiliki mimpi.
Setiap malam mereka berbicara tentang masa depan.
“Kita akan punya rumah kecil,” kata Raka.
“Di mana?”
“Dekat laut.”
“Kenapa dekat laut?”
“Supaya setiap kali kamu sedih, kamu tidak perlu pergi jauh.”
Alya tertawa.
“Kalau aku bahagia?”
“Berarti aku yang pergi ke pantai.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin mengucapkan terima kasih kepada laut yang sudah membuatmu tetap tinggal.”
Alya memukul bahu Raka.
“Dasar penyair.”
Tetapi di dalam hati, Alya menyimpan kalimat itu.
Selamanya.
BAB IV
Orang Ketiga
Cinta tidak selalu kalah oleh kebencian.
Kadang-kadang cinta kalah oleh keadaan.
Sebuah tawaran pekerjaan datang kepada Raka.
Gajinya besar.
Tetapi ia harus pergi ke Jakarta.
“Aku harus pergi,” katanya kepada Alya.
Alya diam.
“Berapa lama?”
“Tidak tahu.”
“Kalau begitu jangan pergi.”
Raka menatapnya.
“Aku pergi justru karena ingin kembali kepadamu dengan kehidupan yang lebih baik.”
Alya menangis.
“Bagaimana kalau aku tidak membutuhkan kehidupan yang lebih baik?”
Raka menggenggam tangannya.
“Aku membutuhkannya.”
Mereka berpelukan.
Malam itu mereka membuat janji.
Raka akan pulang.
Alya akan menunggu.
Tetapi mereka tidak tahu bahwa hidup sedang menyiapkan ujian yang jauh lebih berat.
BAB V
Surat yang Tidak Pernah Sampai
Bulan pertama, mereka masih sering menelepon.
Bulan kedua, pesan mulai berkurang.
Bulan ketiga, Raka tidak lagi mendapatkan jawaban.
Ia menelepon.
Tidak diangkat.
Mengirim pesan.
Tidak dibalas.
Sampai suatu malam, sebuah pesan datang.
Kita selesai. Jangan cari aku lagi.
Raka membaca pesan itu berulang kali.
Tidak percaya.
Ia pulang.
Namun Alya sudah pergi.
Rumahnya kosong.
Tetangganya hanya mengatakan bahwa keluarga Alya pindah.
Tidak ada yang tahu ke mana.
Raka berdiri di depan rumah itu selama berjam-jam.
Di tangannya, ada kotak kecil.
Di dalamnya sebuah cincin.
Ia hendak melamar Alya.
Tetapi perempuan yang ingin dinikahinya telah menghilang.
BAB VI
Dua Belas Tahun Kemudian
Raka akhirnya berhasil.
Ia menjadi pengusaha.
Memiliki perusahaan.
Memiliki rumah.
Memiliki kehidupan yang dahulu ia impikan.
Tetapi tidak memiliki Alya.
Orang-orang menganggapnya sukses.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam ia masih membuka kotak kayu berisi mutiara.
Mutiara yang dulu diberikan Alya.
Ia tidak pernah menjualnya.
Tidak pernah membuangnya.
Tidak pernah memberikannya kepada siapa pun.
Karena bagi Raka, mutiara itu adalah janji yang belum selesai.
Sampai pesan itu datang.
Aku pulang.
BAB VII
Kepulangan
Mereka bertemu di sebuah kafe kecil.
Alya datang lebih dulu.
Raka berhenti di depan pintu.
Waktu seakan berhenti.
Perempuan yang dulu ia kenal kini berdiri di hadapannya.
Wajahnya berubah.
Lebih dewasa.
Lebih tenang.
Tetapi matanya masih sama.
Mata yang dulu membuat Raka lupa bagaimana caranya pulang.
“Raka.”
Satu kata.
Cukup untuk membuat pertahanan bertahun-tahun runtuh.
“Alya.”
Mereka duduk berhadapan.
Tidak ada yang langsung berbicara.
Akhirnya Alya berkata,
“Maaf.”
Raka menatapnya.
“Untuk apa?”
“Karena pergi.”
“Kenapa?”
Alya menunduk.
“Aku tidak pernah meninggalkanmu karena tidak mencintaimu.”
Raka terdiam.
“Lalu?”
Air mata Alya jatuh.
“Karena aku pikir, mencintaimu berarti membiarkanmu bebas mengejar masa depan.”
Raka mengepalkan tangannya.
“Dan selama dua belas tahun itu?”
“Aku juga menunggumu.”
“Kenapa tidak kembali?”
Alya menatapnya.
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut ternyata kamu sudah tidak mencintaiku.”
Raka tersenyum pahit.
“Kalau aku sudah berhenti mencintaimu, aku tidak akan menyimpan mutiara itu selama dua belas tahun.”
Alya menangis.
BAB VIII
Rahasia
Namun kepulangan Alya membawa sebuah rahasia.
Ia tidak pulang sendirian.
Ada seorang anak perempuan bersamanya.
Namanya Mutiara.
Raka terdiam ketika pertama kali melihatnya.
Anak itu memiliki mata yang sangat mirip Alya.
Dan ketika Mutiara tersenyum, Raka merasakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan.
“Dia anak siapa?” tanyanya.
Alya tidak menjawab.
“Jawab aku, Alya.”
Air mata Alya kembali jatuh.
“Dia anakmu.”
Dunia Raka seakan berhenti.
Dua belas tahun.
Selama dua belas tahun ia mengira dirinya kehilangan kekasih.
Ternyata ia juga kehilangan seorang anak.
“Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”
“Aku mencoba.”
“Lalu?”
“Ada orang yang memastikan surat-suratku tidak pernah sampai kepadamu.”
Raka menatap Alya.
“Siapa?”
Alya hanya berkata:
“Orang yang selama ini kamu anggap sahabat.”
BAB IX
Pengkhianatan
Kebenaran akhirnya terbuka.
Bukan jarak yang memisahkan mereka.
Bukan cinta yang hilang.
Melainkan kebohongan.
Seseorang telah memalsukan surat.
Seseorang telah membuat Raka percaya bahwa Alya meninggalkannya.
Seseorang pula yang membuat Alya percaya bahwa Raka tidak ingin bertanggung jawab.
Dua manusia yang saling mencintai dipisahkan oleh sebuah permainan.
Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah bisa dihancurkan oleh kebohongan.
Kenangan.
Dan ada cinta yang, meskipun dikubur bertahun-tahun, tetap menemukan jalan untuk pulang.
BAB X
Mutiaraku
Raka membawa Alya dan Mutiara ke pantai.
Tempat pertama mereka berjanji.
Matahari tenggelam perlahan.
Raka mengeluarkan kotak kayu dari sakunya.
Alya menangis ketika melihat isinya.
Mutiara itu masih ada.
Utuh.
Tidak berubah.
Raka menggenggam tangan Alya.
“Dulu kamu bilang, mutiara ini akan diberikan kepada lelaki yang mampu menjagamu.”
Alya mengangguk.
Raka tersenyum.
“Setelah dua belas tahun, apakah aku masih punya kesempatan?”
Alya menangis.
“Kalau aku bilang iya?”
“Berarti aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikan bahwa aku pantas.”
Mutiara kecil itu kemudian diletakkan di tangan Alya.
Namun Alya justru memberikan kembali kepada Raka.
“Bukan.”
Raka bingung.
“Kenapa?”
Alya tersenyum.
“Sekarang bukan aku yang menjaganya.”
Ia menoleh kepada anak perempuan yang berdiri di antara mereka.
“Berikan kepada Mutiara.”
Raka menatap anak itu.
“Mutiara?”
Anak itu tersenyum.
“Kenapa namaku Mutiara?”
Alya memandang Raka.
“Karena kamu adalah mutiara yang lahir dari cinta yang pernah kami perjuangkan.”
Raka memeluk anak itu.
Untuk pertama kalinya setelah dua belas tahun, air matanya jatuh.
Bukan karena kehilangan.
Tetapi karena akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini ia cari.
Rumah.
Keluarga.
Dan cinta yang pernah ia kira telah mati.
Raka memandang laut.
Kemudian berkata perlahan:
“Selama ini aku mencari mutiara.”
Alya tersenyum.
“Dan?”
Raka menggenggam tangan mereka berdua.
“Ternyata mutiaraku bukan benda.”
Ia menatap Alya.
“Mutiaraku adalah kalian.”
EPILOG
Cinta yang Pulang
Bertahun-tahun kemudian, Mutiara tumbuh menjadi perempuan dewasa.
Ia menjadi penulis.
Novel pertamanya diberi judul:
MUTIARAKU
Di halaman pertama, ia menulis:
“Ayah mengajarkanku bahwa cinta tidak selalu datang dengan cara yang mudah.
Ibu mengajarkanku bahwa menunggu bukan berarti menyerah.
Dan kehidupan mengajarkanku bahwa sesuatu yang benar-benar berharga kadang harus melewati badai sebelum akhirnya ditemukan.”
Di halaman terakhir hanya ada satu kalimat:
“Jika suatu hari kamu kehilangan sesuatu yang sangat kamu cintai, jangan buru-buru menganggap semuanya telah berakhir. Bisa jadi, kehidupan sedang membawa sesuatu itu kembali kepadamu dengan cara yang jauh lebih indah.”
Dan di bawahnya tertulis:
Untuk Ayah dan Ibu.
Dari Mutiara.
TAMAT

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.