Padang, akumalu.com — Di tengah berbagai operasi kemanusiaan yang dijalankan, Ketua MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) Sumatera Barat menunjukkan pendekatan kepemimpinan yang tidak biasa. Ia tidak hanya berperan dalam pengambilan kebijakan, tetapi juga terlibat langsung dalam kerja-kerja teknis di lapangan.
Mulai dari asesmen kebutuhan korban, proses pengepakan logistik, gotong royong, pengangkutan barang, distribusi bantuan, hingga menyetir kendaraan operasional, seluruhnya dijalani tanpa sekat jabatan.
Menurutnya, keterlibatan tersebut bukan sekadar simbolik, melainkan bagian dari jati diri sebagai relawan. “Saya ini relawan. Jabatan hanya membedakan tanggung jawab, bukan memisahkan peran di lapangan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan dalam kerja-kerja kemanusiaan justru menuntut kesiapan memikul risiko yang lebih besar, sekaligus hadir langsung bersama tim. Dalam situasi darurat, keteladanan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga soliditas dan semangat relawan.
Pendekatan ini juga menjadi kritik halus terhadap gaya kepemimpinan yang cenderung administratif dan berjarak dari realitas lapangan. Ia mengingatkan bahwa jabatan bersifat sementara, sementara nilai pengabdian dan kemanusiaan harus tetap menjadi pijakan utama.
“Jangan sampai karena jabatan, kita kehilangan jati diri. Di sini, semua bekerja bersama, tanpa sekat,” tegasnya.
Langkah tersebut mendapat respons positif dari para relawan di lapangan. Kehadiran pimpinan yang turut bekerja langsung dinilai mampu memperkuat kepercayaan, mempercepat koordinasi, serta memastikan distribusi bantuan berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.
Dalam konteks penanganan bencana yang kerap dihadapkan pada keterbatasan sumber daya, model kepemimpinan partisipatif seperti ini dinilai relevan untuk memperkuat efektivitas gerakan kemanusiaan berbasis organisasi.
