Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H. | akumalu.com
Di tengah arus modernisasi pendidikan, muncul pertanyaan mendasar: apakah sekolah masih menjadi tempat tumbuhnya manusia, atau justru berubah menjadi “pabrik” yang mencetak robot? Kritik ini bukan tanpa alasan. Banyak praktik pendidikan hari ini dinilai lebih menekankan angka ketimbang makna, hasil ketimbang proses, serta kepatuhan ketimbang kreativitas.
Sekolah “Pabrik Robot”: Gejala yang Nyata
Ciri-ciri sekolah yang terjebak dalam pola “pabrik robot” semakin mudah dikenali.
Pertama, orientasi pendidikan masih berpusat pada angka. Ujian Nasional memang telah berganti menjadi ANBK, tetapi mentalitas mengejar skor tetap sama—hanya berganti istilah, bukan substansi.
Kedua, durasi belajar yang panjang tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas pengalaman belajar. Banyak siswa pulang bukan dengan rasa ingin tahu, melainkan dengan beban stres dan kelelahan.
Ketiga, kesalahan sering diposisikan sebagai dosa besar. Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam ketakutan: takut mencoba, takut bertanya, bahkan takut berbeda pendapat.
Keempat, keseragaman menjadi standar. Bukan hanya seragam fisik, tetapi juga seragam cara berpikir. Kreativitas yang seharusnya tumbuh justru dianggap mengganggu ketertiban.
Sekolah sebagai “Taman”: Gagasan yang Terlupakan
Konsep pendidikan yang lebih manusiawi sebenarnya telah lama dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara. Ia menggambarkan sekolah sebagai “taman”—tempat anak tumbuh sesuai kodratnya.
Taman adalah ruang hidup yang subur. Ada cahaya, air, dan tanah yang mendukung pertumbuhan. Dalam konteks pendidikan, guru bukanlah pengontrol, melainkan pamong—yang menyirami, merawat, dan mendampingi, bukan memaksa tumbuh secara instan.
Taman juga penuh keberagaman. Tidak semua anak harus menjadi dokter atau insinyur. Ada yang unggul di seni, bahasa, olahraga, desain, dan berbagai bidang lainnya. Setiap anak memiliki potensi unik yang layak dihargai.
Lebih dari itu, taman adalah tempat yang menyenangkan. Anak datang ke sekolah karena rindu belajar, bukan karena takut dihukum. Relasi antara guru dan murid dibangun atas dasar kepercayaan dan keteladanan.
Filosofi kepemimpinan pendidikan pun jelas:
- Ing ngarso sung tulodo: di depan memberi teladan
- Ing madya mangun karso: di tengah membangun semangat
- Tut wuri handayani: di belakang memberi dorongan
Prinsip ini dikenal sebagai Sistem Among, yang menempatkan anak sebagai subjek merdeka dalam proses belajar.
Merdeka Belajar: Lebih dari Sekadar Slogan
Sekolah sebagai taman berarti memberi ruang kemerdekaan:
- Merdeka berpikir
- Merdeka berpendapat
- Merdeka mencoba dan gagal
Karena dari kegagalanlah lahir keberanian dan inovasi.
Jalan Keluar: Berhenti Mencetak Robot
Perubahan bukan hal mustahil. Ada langkah konkret yang bisa dilakukan:
Kurikulum perlu bergeser dari hafalan ke pengalaman. Kurangi dominasi ujian tulis, dan perbanyak proyek, diskusi, presentasi, serta karya nyata.
Guru harus bertransformasi dari “penjaga ujian” menjadi “penumbuh potensi”. Bukan sekadar mengawasi, tetapi membimbing dan menginspirasi.
Orang tua juga perlu mengubah pola pikir. Pertanyaan “nilainya berapa?” sebaiknya diganti dengan “apa yang kamu pelajari hari ini?”
Sistem pendidikan harus berani memberi ruang gagal. Negara seperti Finlandia bahkan tidak menerapkan sistem peringkat di sekolah dasar, namun tetap unggul dalam inovasi dan kualitas pendidikan.
Penutup: Mengembalikan Hakikat Sekolah
Robot mungkin mampu menggantikan manusia di pabrik, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan peran manusia sebagai makhluk berpikir, berperasaan, dan berbudaya.
Sekolah bukanlah tempat mencetak tenaga kerja semata. Ia adalah ruang merawat tunas bangsa dan peradaban.
Sudah saatnya kita berhenti memaksa anak menjadi mesin penurut. Kembalikan sekolah menjadi taman—tempat yang aman, indah, dan menyenangkan untuk tumbuh. Tempat di mana setiap anak bisa menjadi dirinya sendiri, sesuai kodrat dan potensinya.
