Gagasan MDMC 4.0 dorong integrasi relawan, logistik, layanan kesehatan, dan pembiayaan untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.
YOGYAKARTA, AKUMALU.COM — Senator asal Sumatera Barat, Irman Gusman, mendorong Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) memperkuat jejaring kemanusiaan dengan memastikan kesiapan relawan, logistik, layanan kesehatan, serta dukungan pembiayaan sebelum bencana terjadi.
Dorongan tersebut disampaikan Irman Gusman saat menjadi keynote speaker dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)-MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (12/9/2026).
Di hadapan ratusan peserta yang terdiri atas pimpinan dan anggota LRB-MDMC PP Muhammadiyah serta pengurus MDMC dari berbagai wilayah di Indonesia, Irman memperkenalkan gagasan pengembangan MDMC 4.0 atau Integrated Humanitarian and Resilience Network sebagai arah penguatan jejaring kemanusiaan dan ketangguhan masyarakat.
Menurut Irman, kepercayaan publik yang selama ini menjadi modal penting Muhammadiyah harus diterjemahkan menjadi kapasitas nyata untuk melindungi masyarakat, merespons bencana secara cepat, serta mempercepat pemulihan kehidupan warga terdampak.
“Kepercayaan publik adalah modal sosial. Namun, kepercayaan itu harus diubah menjadi kapasitas, kemampuan menghubungkan sumber daya, mengambil keputusan, dan menggerakkan bantuan secara cepat ketika masyarakat membutuhkan,” ujar Irman Gusman.
MDMC Memiliki Modal Besar untuk Memperluas Jejaring
Irman yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Penasihat MDMC Sumatera Barat menilai, posisi MDMC semakin strategis karena berada dalam ekosistem besar Muhammadiyah yang memiliki akar kuat di tengah masyarakat serta jaringan amal usaha yang luas.
Dalam penanggulangan bencana, kata dia, tidak ada satu lembaga yang mampu bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, media, komunitas, hingga masyarakat di tingkat akar rumput.
Setiap unsur memiliki sumber daya dan kapasitas yang dapat saling melengkapi. Karena itu, MDMC perlu mengambil peran sebagai penghubung yang mampu menyatukan berbagai kekuatan tersebut dalam satu sistem kerja kemanusiaan yang terintegrasi.
“Sekolah, rumah sakit, masjid, perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan jaringan relawan dapat saling menopang, mulai dari kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan mata pencaharian masyarakat,” jelasnya.
Gagasan MDMC 4.0, lanjut Irman, merupakan konsep pengembangan jejaring, bukan nomenklatur resmi organisasi. Konsep tersebut diarahkan untuk melanjutkan dan memperkuat kerja-kerja penanggulangan bencana, tanggap darurat, serta pembangunan ketangguhan masyarakat yang selama ini telah berjalan.
Indonesia Menghadapi Risiko Bencana yang Tinggi
Irman menegaskan, penguatan kesiapsiagaan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak. Ia merujuk pada World Risk Index 2025 yang menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga dari 193 negara dengan skor 39,80.
Dalam indeks tersebut, Filipina berada di peringkat pertama dengan skor 46,56, sedangkan India menempati posisi kedua dengan skor 40,73.
Indeks ini mengukur risiko bencana berdasarkan sejumlah faktor, antara lain paparan terhadap bahaya, kerentanan masyarakat, serta kemampuan menghadapi dan beradaptasi terhadap bencana.
“Data tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas masyarakat, kesiapsiagaan, dan ketangguhan harus menjadi bagian penting dari pembangunan,” ungkap Irman.
Pentingnya Trigger Mechanism dalam Penanganan Bencana
Salah satu hal yang menjadi perhatian Irman adalah perlunya mekanisme pemicu tindakan atau trigger mechanism yang disepakati sebelum krisis terjadi.
Mekanisme tersebut harus mengatur secara jelas data yang digunakan, pihak yang memiliki kewenangan mengaktifkan jejaring, pembagian peran, pengerahan sumber daya, hingga mekanisme pertanggungjawaban kepada publik.
Dengan protokol yang jelas, koordinasi penanganan bencana tidak perlu dimulai dari nol setiap kali terjadi keadaan darurat.
“Yang penting bukan hanya siapa yang bergerak, tetapi bagaimana semua kekuatan yang ada bisa segera bergerak ketika dibutuhkan. Itulah pentingnya trigger mechanism,” tegasnya.
Irman juga mengingatkan agar mitigasi bencana tidak dipandang sebagai beban anggaran semata, melainkan sebagai investasi pembangunan jangka panjang.
Ia menyampaikan bahwa kajian Bank Dunia dan GFDRR mengenai infrastruktur tangguh memperkirakan manfaat sekitar empat dolar untuk setiap satu dolar yang diinvestasikan di negara berpendapatan rendah dan menengah. Investasi tersebut dapat membantu mengurangi kerusakan serta gangguan terhadap layanan publik dan kegiatan ekonomi.
“Mitigasi dan kesiapsiagaan adalah investasi untuk melindungi kehidupan, menjaga layanan publik, dan mempertahankan keberlanjutan ekonomi. Setiap rupiah yang dikeluarkan sebelum bencana harus diarahkan untuk mengurangi kerugian dan mempercepat pemulihan,” kata Irman.
Dukungan Pemerintah dan Penguatan Kerja Bersama
Gagasan penguatan jejaring kemanusiaan tersebut sejalan dengan pentingnya peran jaringan amal usaha Muhammadiyah dalam mendukung keselamatan masyarakat.
Pada pembukaan Rakernas, Jumat (11/9/2026), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, turut menyoroti pentingnya jaringan sekolah, kampus, rumah sakit, dan klinik Muhammadiyah dalam mendukung penanganan bencana.
Pembukaan Rakernas juga diisi dengan sambutan Ketua LRB-MDMC PP Muhammadiyah H. Budi Setiawan, S.T., serta amanah dan pembukaan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si.
Menurut Irman, dukungan kelembagaan tersebut perlu diterjemahkan menjadi kerja bersama yang terukur, dengan pelatihan berkala, standar operasional, kesiapan sumber daya, serta indikator keberhasilan yang jelas.
Perlindungan terhadap warga terdampak bencana, lanjutnya, tidak boleh berhenti pada masa tanggap darurat. Pemulihan harus mencakup layanan kesehatan, dukungan psikososial, pemulihan mata pencaharian, dan penguatan ketangguhan masyarakat.
Rakernas MDMC Ditutup Jusuf Kalla
Rangkaian Rakernas LRB-MDMC PP Muhammadiyah berlangsung selama tiga hari, mulai Jumat hingga Minggu, 11–13 September 2026.
Kegiatan tersebut ditutup pada Minggu (13/9/2026) oleh mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla, yang juga menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia (PMI).
Menutup penyampaiannya, Irman Gusman menegaskan bahwa bencana mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan, kolaborasi, dan penguatan jejaring kemanusiaan.
“Bencana memang tidak selalu bisa kita cegah, tetapi dampaknya bisa kita kurangi. Karena itu, kita harus memperkuat kesiapsiagaan, memperluas jejaring, dan memastikan setiap kekuatan dapat bergerak bersama ketika kemanusiaan membutuhkan,” tutup Irman Gusman.
AKUMALU.COM — Akurat, Terpercaya, Untuk Semua.

Belum ada komentar
Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.