Padang – Wakil Ketua MPR RI Eddy Suparno mengungkapkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi masih sangat tinggi dan menjadi beban besar bagi negara. Hal itu disampaikannya di Padang, Sumatera Barat, Senin (9/12).
Eddy menyebut, dengan harga minyak mentah dunia yang berada di kisaran 70 dolar AS per barel, pemerintah harus mengeluarkan sekitar 70 juta dolar AS per hari untuk mengimpor minyak mentah guna memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional.
“Setiap hari negara mengeluarkan kurang lebih 70 juta dolar AS hanya untuk impor minyak mentah,” kata Eddy.
Selain minyak mentah, Indonesia juga masih mengimpor berbagai jenis energi lainnya. Eddy menyebut impor BBM, diesel, minyak tanah, hingga LPG 3 kilogram yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan memasak masih berlangsung setiap tahun.
Menurut Eddy, untuk BBM saja, Indonesia mengimpor hingga sekitar 8 juta liter, yang semakin menambah beban anggaran negara. Padahal, kata dia, Indonesia memiliki potensi sumber energi yang sangat besar di dalam negeri.
“Kita punya sumber energi melimpah, tetapi masih bergantung pada impor. Ini yang harus segera kita kurangi,” ujarnya.
Karena itu, Eddy menekankan pentingnya percepatan transisi energi dengan mengembangkan energi bersih seperti panas bumi, tenaga surya, dan energi angin agar ketergantungan impor dapat ditekan, bahkan dihilangkan.
Ia juga menyoroti sektor transportasi yang masih menjadi penyumbang utama konsumsi energi fosil.
Menurutnya, kendaraan umum maupun kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat, perlu menjadi perhatian dalam agenda transisi energi nasional.
