Oleh Labai Korok
Dakoga.tv – Pemilu terakhir era orde baru, satu desa dimintak oleh kader Golongan Karya (Golkar) senior harus, wajib menang 100%, nah baru pembangunan di Desa Kita bisa terwujud. Kalau tidak menang Golkar 100%, maka jangan harap ada pembangunan kampung Kito.
Kalimat diatas terjadi disaat Penulis hadir rapat rahasia di umah Kepala Desa, dini hari, tanggal 27 Mei 1997, saat itu peserta yang hadir, semua panitia pemilihan, Kepala Dusun, ninik mamak, ulama, cadiak pandai, dan Penulis juga hadir selaku generasi muda, karena Penulis sudah menjabat sekretaris umum karang taruna Desa.
Saat Penulis hadir rapat rahasia tersebut, Penulis merupakan kader golongan karya (Golkar) termuda di Desa itu, satu-satunya yang paling muda dari kader yang ada di Desa tersebut.
Itu pengalaman yang tidak bisa dilupakan, disitu Penulis tahu bagaimana cara melakukan kecurangan agar golongan karya bisa menang mutlak di desa kami. Tapi sewaktu Penulis ikut pemilu tidak pernah Penulis tiru pengalaman yang berharga itu karena haram dalam partai yang Penulis terlibat.
Sampai hari ini, pemilu 1997 tersebut, Penulis masih ingat bagaimana cara memenangkan golongan karya di Desa Kita, rapat rahasia malam itu rinci arahan, dijelaskan dan dibahas bagai mana melakukan kecurangan. Jika Penulis ingat keadaan rapat rahasia malam tersebut seperti rapat yang diadakan Aidit di lubang buaya saat pemberontak PKI.
Kata kunci, target golongan karya harus menang mutlak di Desa ini, semua strategi kecurangan dipaparkan, dikasih panduan, disuruh yang hadir mengingat dan melakukan saat pencoblosan, akhirnya dengan semua pola kecurangan dilakukan, benar Desa kami Golkar menang 98%, nomor dua PPP, suara terahir didapat oleh PDI sebayak 3 suara.
Seusia Penulis ini, umur 48 tahun, tidak akan ada warga negara Indonesia yang terlibat ikut merumuskan melakukan kecurangan pemilu, ikut mengalami betapa brutalnya kecurangan pemilu diera orde baru itu, terkhusus di wilayah pemerintahan terbawah yaitu Desa.
Waktu itu doktrin yang ada yaitu penguasa (Golkar) harus menang mutlak, andaikan tidak menang maka Desa Kita ini tidak akan pernah dibangun jalan, jembatan dan pasilitas lain, itu penyampaian kader golongan karya senior yang merupakan aparat sipil pemerintah di kementerian agam.
Waktu itu Penulis tidak kenal politik, yang kenal dari para senior itu, hanya satu yaitu menang Golkar maka pembangunan desa akan terjadi, kita punya jalan bagus, jembatan dibuat, sekolah makin baik, hidup senang, dan lainnya.
Dalam catatan Penulis setelah Penulis masuk perguruan tinggi, maka Penulis sadar pola pemilu 1997 tersebut adalah pola kecurangan pemilu yang tidak beradap dalam demokrasi yang dijunjung tinggi di dunia.
Jika dilarikan ke agama Islam bahwa pola pemilihan umum seperti tahun 1997 itu, adalah pemilihan umum yang masuk katagori haram karena penguasa hari itu, mulai dari posisi tinggi sampai posisi tingkat Desa dan Dusun, di pola agar curang dan Soeharto yang berkuasa hari itu tetap berkuasa sampai mati.
Pertanyaannya sekarang, menantu Soeharto yang jadi presiden ini akan kah melanjutkan pola Soeharto, yang semua lini harus kembali ke pola kekuasaan Orde Baru.
Bersambung
