Cuaca Sumatera

Diperbarui 22.09 WIB · Sumber Open-Meteo
Medan
24°
🌤 Cerah berawan
Padang
23°
🌤 Berawan sebagian
Pekanbaru
24°
🌤 Berawan sebagian
Palembang
27°
☀️ Cerah
Banda Aceh
24°
🌦 Gerimis ringan
Batam
24°
🌦 Gerimis ringan
Bandar Lampung
25°
⛅ Berawan
Aku Malu › Opini › Berita
Opini

Kuliner Kopi, Kuliner Coklat: Kunjungi Sentralnya di Padang Pariaman

Oleh: Ir. Bagindo Yohanes Wempi, SPt., IPP., CST

Padang Pariaman memiliki peluang besar untuk mengembangkan kawasan wisata kuliner berbasis potensi lokal. Ketika Sentra Kopi Padang Pariaman semakin berkembang, salah satu hilirisasinya dapat diarahkan pada terbentuknya pusat kuliner dan wisata kopi di Puncak Kiambang.

Puncak Kiambang sendiri sudah lama dikenal sebagai salah satu kawasan kuliner di jalur lintas Padang–Bukittinggi, Sumatera Barat. Pengembangan kawasan ini dengan konsep yang lebih terintegrasi tentu dapat menambah pilihan destinasi bagi wisatawan sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Gagasan pengembangan wisata kuliner kopi ini telah didiskusikan dengan berbagai pihak dan pemangku kepentingan. Ke depan, konsep tersebut dapat dimasukkan dalam Renstra Pengembangan Agrowisata dan Kuliner Padang Pariaman, sehingga pengembangannya memiliki arah dan perencanaan yang jelas.

Bayangkan jika wisatawan yang tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM) kemudian melakukan perjalanan menuju Padang Panjang atau Bukittinggi. Mereka akan melewati rangkaian destinasi kuliner yang memiliki karakter dan produk unggulan masing-masing.

Perjalanan dapat diawali dengan kuliner buah mingkudu, kemudian menuju Pasar Lubuk Alung yang menawarkan beragam makanan khas Piaman, seperti masakan lamak dan gurih.

Setelah melewati kawasan perkantoran Bupati Padang Pariaman, wisatawan dapat diarahkan menuju kawasan kuliner kopi di Puncak Kiambang. Di sini, konsepnya bukan sekadar kedai kopi, tetapi dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata kopi yang memadukan kopi tradisional, kedai modern atau coffee shop yang diminati generasi Z, edukasi kopi, serta panorama alam.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Kapalo Hilalang, yang memiliki potensi kuliner pinyaram dan bika. Selanjutnya wisatawan dapat menikmati kuliner buah, khususnya durian khas Kayu Tanam, sebelum mencapai kawasan Malibo, Kecamatan 2 X 11 Kayu Tanam, sebagai salah satu kawasan yang berpotensi dikembangkan menjadi pusat kuliner coklat.

Padang Pariaman memiliki potensi perkebunan kakao yang besar. Bahkan, daerah ini telah memiliki fasilitas pengolahan coklat dan sentra industri coklat yang dapat dikembangkan untuk mengolah hasil perkebunan lokal menjadi berbagai produk kuliner dan oleh-oleh.

Dalam diskusi dengan Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis, juga terungkap gagasan agar pengelolaan pengembangan industri dan kuliner coklat tersebut dapat diperkuat melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang akan dibentuk atau dikembangkan sesuai kebutuhan daerah.

Menurut saya, posisi strategis Padang Pariaman sebagai daerah lintasan antarkabupaten dan kota di Sumatera Barat merupakan sebuah keuntungan yang harus dimanfaatkan. Jalur Padang–Bukittinggi bukan hanya dapat menjadi jalur transportasi, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai koridor wisata kuliner dan ekonomi kreatif.

Bayangkan sebuah perjalanan wisata dengan rangkaian destinasi: kuliner buah mingkudu, kuliner khas Piaman di Lubuk Alung, sentra kopi di Puncak Kiambang, pinyaram dan bika di Kapalo Hilalang, kuliner durian di Kayu Tanam, hingga pusat kuliner coklat di Malibo.

Konsep seperti ini bukan sekadar menghadirkan tempat makan. Lebih jauh, kita sedang membangun rantai ekonomi dari hulu hingga hilir. Petani menghasilkan komoditas, pelaku UMKM mengolahnya, pedagang memasarkannya, wisatawan menikmatinya, dan pada akhirnya perputaran ekonomi kembali kepada masyarakat.

Puncak Kiambang sebagai Sentra Wisata Kopi

Kuliner kopi pada dasarnya bukan hanya aktivitas menikmati secangkir kopi. Ia merupakan bagian dari gaya hidup, budaya, kreativitas, dan pengalaman wisata.

Karena itu, kawasan kuliner kopi di Puncak Kiambang dapat dirancang dengan berbagai konsep. Ada warung kopi tradisional dengan cara penyajian yang khas dan unik, ada coffee shop modern yang menjadi tempat berkumpul generasi muda, serta dapat dikembangkan menjadi wisata edukasi kopi.

Wisatawan tidak hanya datang untuk minum kopi, tetapi juga dapat mengenal jenis kopi, proses pengolahan, sejarah kopi, hingga menikmati suasana perkebunan dan panorama alam Sumatera Barat.

Konsep tersebut akan semakin kuat apabila diintegrasikan dengan produk lokal lainnya, seperti makanan khas Piaman, pinyaram, bika, durian, kakao, serta berbagai produk UMKM.

Dari Komoditas Menjadi Destinasi

Padang Pariaman memiliki banyak komoditas unggulan. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi produk bernilai tambah dan destinasi wisata yang menarik.

Kopi tidak berhenti sebagai biji kopi. Kakao tidak berhenti sebagai hasil perkebunan. Durian tidak sekadar menjadi buah musiman. Begitu juga makanan tradisional tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat lokal.

Semuanya dapat dikemas menjadi pengalaman wisata.

Jika konsep ini dilakukan secara terencana dan melibatkan pemerintah, BUMD, pelaku usaha, UMKM, petani, komunitas, serta masyarakat setempat, maka koridor Padang–Bukittinggi melalui Padang Pariaman dapat menjadi salah satu kawasan wisata kuliner yang memiliki identitas kuat.

Dari kopi, coklat, buah dan kuliner khas Piaman, kita membangun sebuah ekosistem ekonomi wisata yang menghubungkan petani, UMKM, pelaku usaha, dan wisatawan.

Pada akhirnya, tujuan terbesar dari pengembangan ini bukan hanya menghadirkan tempat wisata baru, tetapi meningkatkan nilai tambah produk lokal, membuka lapangan usaha, memperkuat UMKM, memakmurkan petani, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Padang Pariaman dan Sumatera Barat.

Berita Terkait

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama menanggapi berita ini.

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *