Oleh Labai Korok | akumalu.com
Mau lihat urang baduyaa (berprilaku duniawi) caliak lah ka Piaman. Seluruh aktivitas sosial masyarakat, prilaku budaya keseharian nampak berlebih-lebihan dari kebiasaan orang Minangkabau diluar daerah Piaman.
Begitu juga melakoni kehidupan saat hari raya Idul Fitri ini, keadaan aktivitas masyarakat juga berlebihan-lebihan, ada muncul istilah urang Piaman “bagoyoo” atau budaya bagayoo. Kalau lah istilah bagayoo itu diucapkan oleh anak muda-mudi maka sudah terbayang prilaku yang akan muncul yaitu aktivitas yang negatif.
Seperti anak muda/mudi mengatakan bagayoo awak kepantai, kagunuang, padang, nah dipastikan anak muda itu akan pergi kepantai, tempat lain dengan pacar, nanti nyampe dipantai, tempat wisata tersebut akan menikmati minum-minuman.keras, kegiatan disana akan banyak maksiat.
Andaikan ada emak-emak berpakaian usang tidak baju baru, maka dipastikan akan dibully oleh keluarga dan tetangga, keluar lah kata-kata, “sagayoo koo hari pakai baju usang”, jan pelit bana, terkadang nyerempet ke yang hal lain, misal anaknya juga dak dibelikan baju baru, sa gayoo koo hari, maka secara fisiologis akan jadi tekanan berat dalam kehidupannya.
Sehingga ada pameo di Piaman bagi urang rantau, kalau dak ada pitih atau uang dak ada, maka dak usah bagayoo dikampung, lebih baik dirantau saja.
Nah cerita diatas itu, hanya sekelumit budaya bagayoo disaat Idul Fitri hadir, andaikan dijelaskan secara rinci maka masih banyak budaya lebaran Piaman yang akan membuat pribadi tidak kuat, lalu bunuh diri karena tekanan tersebut.
Pertanyaan apakah dua kasus bunuh diri di lebaran ini, ada kaitannya dengan budaya bagayoo Piaman tersebut, Penulis simpulkan ada, tinggal perlu ada penelitian khusus dari pihak akademis kampus dan Pemerintah Daerah.
Seperti berita yang hari ini viral di Piaman ada kasus D (50), seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Pariaman Timur, Kota Pariaman, Sumatra Barat, mengakhiri hidup saat Lebaran, Sabtu, (21/3/2026).
Korban kehilangan nyawa setelah menenggak racun rumput. Dia diduga mengalami stres karena persoalan ekonomi.
“Subuh menjelang salat Id, suami korban menyadari korban tidak ada di rumah. Kemudian memberitahukan kepada keluarga untuk melakukan pencarian,” kata Kapolsek Kota Pariaman AKP Hijrul Aswad, Minggu, (22/3/2026), dikutip dari Kompas.
Polisi mendapati satu tabung racun tumbuhan merek Gramoxone yang diduga diminum D di tempat kejadian perkara (TKP). Menurut keterangan keluarga dan saksi, korban diduga nekat bunuh diri lantaran impitan ekonomi menjelang Lebaran.
“Menurut keluarga, korban mengalami depresi karena masalah ekonomi. Menjelang Lebaran kebutuhan meningkat, sementara korban tidak memiliki uang,
Kemarin, Pada Senin, 23 Maret 2026 sekitar pukul 16.00 WIB, warga dikejutkan dengan penemuan seorang laki-laki berinisial IN (34) yang ditemukan meninggal dunia di dalam sebuah mobil pick up yang terparkir di pinggir Jalan Kompi Bakipeh, Desa Marabau, Kecamatan Pariaman Selatan, Kota Pariaman.
Penemuan ini berawal dari kecurigaan warga terhadap kendaraan yang terparkir dalam kondisi tertutup rapat dalam waktu cukup lama.
Berdasarkan keterangan saksi dan pihak keluarga, korban sebelumnya berpamitan untuk bekerja dan diketahui tengah menghadapi permasalahan pribadi.
Saat ditemukan, korban berada di dalam mobil dengan kondisi tubuh basah oleh bahan bakar, serta ditemukan botol bekas berisi pertalite di lokasi. Korban telah dibawa ke RSUD M. Yamin dan dinyatakan meninggal dunia. Pihak keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan tidak menempuh jalur hukum. Situasi di lokasi dilaporkan aman dan kondusif.
Dua kasus ini suda bisa dijadikan kajian awal bawa budaya bagoyoo di Piaman perlu dikurangi atau dihapus. Mari urang Piaman kembali menjalani stunah Nabi Muhammad SAW dan ajaran agama Islam bahwa lebaran Idul Fitri itu hanya hari Rayo Kecil, jadi jangan seolah-olah harus dilalui dengan kehidupan mewah-mewah yang sudah mengarah ke hedonis.
Hari raya besar itu dalam agama Islam adalah hari raya Idul adha, dalam ajaran kita rayakan selama tiga hari, namun setiap hari raya itu, kita lalui dengan syukur, bukan baduya seperti diuraikan diatas.
