YOGYAKARTA | Akumalu.com — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi menerbitkan Surat Edaran Nomor 5/EDR/I.0/B/2026 tentang penguatan budaya hidup hemat dan efisiensi di lingkungan Persyarikatan. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Muhammadiyah mulai melakukan penyesuaian strategis menghadapi tekanan ekonomi nasional dan ketidakpastian global yang kian meningkat.
Edaran yang ditandatangani Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir tersebut ditujukan kepada seluruh jajaran pimpinan wilayah, organisasi otonom (Ortom), Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), hingga Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) di seluruh Indonesia.
Dalam edaran itu, PP Muhammadiyah menekankan pentingnya membangun budaya hidup sederhana, sehat, produktif, dan efisien sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
“Efisiensi bukan berarti melemahkan gerakan, tetapi memperkuat ketahanan organisasi agar tetap mandiri dan berkemajuan di tengah tantangan ekonomi global,” demikian semangat yang tertuang dalam kebijakan tersebut.
Ada delapan poin utama yang menjadi perhatian dalam surat edaran itu. Salah satunya adalah pengetatan anggaran dengan memangkas pengeluaran yang dianggap tidak mendesak serta mengurangi kegiatan seremonial yang dinilai kurang berdampak langsung kepada masyarakat.
PP Muhammadiyah juga meminta seluruh elemen Persyarikatan memprioritaskan program-program strategis yang memberikan manfaat nyata bagi umat dan masyarakat luas. Selain itu, penggunaan teknologi digital turut didorong melalui optimalisasi rapat daring untuk mengurangi biaya perjalanan dan pelaksanaan kegiatan berskala besar.
Tidak hanya itu, kegiatan kunjungan luar negeri juga diminta lebih selektif dan dibatasi sesuai kebutuhan prioritas organisasi.
Dalam aspek pengelolaan fasilitas, Muhammadiyah turut menekankan gerakan penghematan energi dengan mengajak seluruh warga Persyarikatan mematikan penggunaan listrik dan air apabila tidak digunakan.
Menariknya, PP Muhammadiyah juga mulai mendorong inovasi penggunaan energi terbarukan, termasuk pemanfaatan panel surya sebagai alternatif penghematan jangka panjang di lingkungan amal usaha dan fasilitas milik Persyarikatan.
Langkah efisiensi ini dinilai sebagai bentuk kesiapsiagaan organisasi menghadapi dinamika ekonomi global yang berdampak pada berbagai sektor, termasuk pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang selama ini menjadi kekuatan utama Muhammadiyah.
Kebijakan tersebut juga mendapat perhatian luas dari warga Muhammadiyah dan publik karena dinilai relevan dengan kondisi ekonomi saat ini yang menuntut pengelolaan organisasi lebih adaptif, efektif, dan berorientasi keberlanjutan.
Dengan jaringan amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari sekolah, universitas, rumah sakit, hingga lembaga sosial dan ekonomi, Muhammadiyah dipandang perlu mengambil langkah preventif agar stabilitas organisasi tetap terjaga.
Instruksi hidup hemat ini sekaligus menjadi pesan moral bahwa kesederhanaan, efisiensi, dan produktivitas harus kembali menjadi budaya kolektif di tengah meningkatnya tantangan ekonomi dan gaya hidup konsumtif masyarakat modern. (***)
