Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H | akumalu.com
(Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Provinsi Sumatera Barat Periode 1998–2002)
Di negeri yang berdiri atas sumpah, darah perjuangan, dan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, rakyat sesungguhnya tidak pernah meminta pemimpin yang sempurna. Rakyat hanya berharap pemimpin yang jujur, amanah, dan berpihak kepada kebenaran. Namun yang paling menyakitkan adalah ketika kekuasaan justru melahirkan pemimpin ingkar dan pemimpin mungkar. Mereka tampil manis saat meminta dukungan, tetapi berubah ketika kursi kekuasaan telah digenggam.
Orang tua-tua Minangkabau sejak dahulu telah mengingatkan:
“Pemimpin ingkar, semuanya diingkari, hatinya mungkar, sifatnya tengkar, hati busuk mulut pun kasar, berjalan tidak pada yang benar.”
Kalimat ini bukan sekadar petuah adat, tetapi gambaran nyata tentang pemimpin yang kehilangan moral dan rasa takut kepada Tuhan.
Pemimpin ingkar adalah pemimpin yang mengkhianati janji, sumpah jabatan, dan amanah rakyat. Mereka bicara tentang kesejahteraan, tetapi sibuk memperkaya diri. Mereka menjual harapan saat kampanye, namun setelah berkuasa rakyat justru ditinggalkan. Rasulullah SAW telah mengingatkan:
“Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, dan jika dipercaya khianat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hari ini, rakyat menyaksikan sendiri bagaimana janji politik berubah menjadi retorika kosong. Data LSI 2024 menyebutkan lebih dari 67 persen anak muda tidak lagi percaya terhadap janji politik. Ini alarm bahaya bagi masa depan bangsa. Ketika kepercayaan rakyat hancur, maka demokrasi kehilangan ruhnya.
Lebih tragis lagi, pemimpin ingkar sering menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Rakyat kecil cepat dihukum, sementara elite yang merampok uang negara justru dilindungi. ICW mencatat kerugian negara akibat korupsi mencapai puluhan triliun rupiah. Ini bukan sekadar angka, tetapi jeritan rakyat miskin yang haknya dicuri.
Namun pemimpin mungkar lebih berbahaya daripada pemimpin ingkar. Jika pemimpin ingkar hanya melanggar janji, maka pemimpin mungkar aktif menyebarkan kerusakan. Mereka melegalkan keburukan, melindungi kemaksiatan, bahkan menindas rakyat atas nama pembangunan.
Allah SWT telah memperingatkan dalam QS. Ali Imran ayat 110 bahwa umat terbaik adalah yang menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. Tetapi pemimpin mungkar justru melakukan kebalikannya. Yang benar dihalangi, yang salah dilindungi.
Hari ini kita melihat generasi muda dihancurkan oleh judi online, narkoba, dan kerusakan moral yang dibiarkan tumbuh. PPATK mencatat perputaran uang judi online mencapai ratusan triliun rupiah. Ironisnya, negara sering tampak kalah menghadapi kejahatan digital yang merusak masa depan bangsa.
Di sisi lain, rakyat kecil digusur demi kepentingan oligarki. Tanah masyarakat diambil atas nama investasi dan pembangunan. Padahal tugas negara adalah melindungi, bukan menindas. Inilah yang dahulu dicontohkan Fir’aun: kekuasaan tanpa keadilan.
Buya Hamka pernah mengingatkan:
“Kalau hidup sekadar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau kerja sekadar kerja, kera di rimba juga bekerja.”
Kalimat ini menjadi tamparan keras bagi pemimpin yang hanya mengejar jabatan tanpa nilai pengabdian. Sebab kekuasaan tanpa moral akan berubah menjadi alat penindasan.
Soekarno juga telah memperingatkan sejak awal republik ini berdiri:
“Negara ini harus berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa, kalau tidak kita akan jatuh ke lembah kapitalisme dan imperialisme.”
Apa yang terjadi hari ini seolah membenarkan kekhawatiran itu. Ketika agama hanya dijadikan simbol politik, sementara nilai keadilan dan amanah ditinggalkan, maka kehancuran tinggal menunggu waktu.
Karena itu, jalan keluar bangsa ini bukan sekadar pergantian pemimpin, tetapi perubahan moral kepemimpinan. Rakyat harus cerdas memilih pemimpin, bukan karena uang dan pencitraan. Pemimpin harus diuji dengan amanah, kejujuran, keberanian membela rakyat, serta keberpihakan kepada nilai agama dan keadilan.
Islam mengajarkan bahwa pemimpin ideal adalah pemimpin yang kuat, amanah, berilmu, dan adil. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qashash ayat 26:
“Sesungguhnya orang yang paling baik engkau ambil untuk bekerja adalah yang kuat lagi terpercaya.”
Momentum Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah harus menjadi pengingat bahwa generasi muda tidak boleh diam melihat kemungkaran kekuasaan. Pemuda harus menjadi kekuatan moral bangsa, penjaga nurani rakyat, dan pengingat bagi penguasa agar tidak menyimpang dari amanah.
Sebab jika pemuda rusak oleh pemimpin ingkar dan mungkar, maka yang hancur bukan hanya masa depan generasi, tetapi masa depan Indonesia itu sendiri.
Sejarah telah membuktikan: bangsa besar bukan hancur karena miskin, tetapi karena pemimpinnya kehilangan amanah dan rakyatnya takut berkata benar.
