Padang, akumalu.com — Dikutip dari akumalu.com, perjalanan hidup Muhammad Shadiq Pasadigoe menjadi bukti nyata bahwa kesuksesan tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari kerja keras, ketekunan, dan integritas yang dijaga sepanjang waktu.
Lahir pada 8 Januari 1960 di Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Ir. M. Shadiq Pasadigoe, S.H., M.M. tumbuh dalam lingkungan yang sarat nilai perjuangan. Ia merupakan putra dari seorang pejuang kemerdekaan yang pernah diasingkan ke Digul. Namun, perjalanan kariernya tidak ditopang oleh privilese, melainkan dimulai dari bawah dengan tekad yang kuat untuk mengabdi.
Tahun 1988 menjadi titik awal pengabdiannya sebagai staf di Pemerintah Daerah Kabupaten Tanah Datar. Tanpa sorotan dan tanpa kemudahan, ia menapaki karier birokrasi secara bertahap. Pengalaman tersebut membentuk karakter kepemimpinannya yang memahami persoalan masyarakat dari akar rumput.
Kariernya terus berkembang di tingkat Provinsi Sumatera Barat, khususnya di Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ). Ia menempati berbagai posisi strategis, mulai dari staf hingga kepala seksi dan kepala subdinas di bidang keselamatan dan teknik sarana angkutan darat. Dari sinilah ia memahami kompleksitas persoalan publik, mulai dari kemacetan, keselamatan jalan, hingga kebutuhan infrastruktur transportasi.
Kerja kerasnya berbuah kepercayaan. Pada 2005, ia diangkat sebagai Wakil Kepala Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Barat, sebuah posisi eselon tinggi yang menandai lonjakan kariernya di birokrasi.
Di tahun yang sama, masyarakat Tanah Datar memberikan mandat kepadanya untuk memimpin sebagai Bupati. Ia menjabat selama dua periode, yakni 2005–2010 dan 2010–2015. Kepemimpinannya mencatat berbagai kemajuan pembangunan daerah dan memperkuat fondasi tata kelola pemerintahan yang lebih baik.
Pengakuan atas kapasitasnya tidak hanya datang dari daerah. Ia dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) periode 2011–2015. Posisi ini menempatkannya dalam lingkup nasional, memperluas kontribusinya dalam penguatan otonomi daerah di Indonesia.
Usai menjabat sebagai bupati, ia melanjutkan pengabdian di tingkat pusat. Pada 2016, ia lolos seleksi sebagai Inspektur di Inspektorat Jenderal Kementerian Dalam Negeri. Kariernya berlanjut sebagai Staf Ahli Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah pada 2017–2018.
Dengan pengalaman panjang di birokrasi—mulai dari daerah hingga kementerian—ia semakin matang dalam memahami sistem pemerintahan, reformasi birokrasi, serta pentingnya pelayanan publik yang berpihak kepada masyarakat.
Puncak perjalanan kariernya terjadi pada Pemilu 2024. Muhammad Shadiq Pasadigoe terpilih sebagai Anggota DPR RI periode 2024–2029 dari Partai NasDem untuk Daerah Pemilihan Sumatera Barat I, dengan perolehan 50.458 suara. Ia resmi dilantik pada 1 Oktober 2024 di Gedung DPR RI, Senayan.
Dari seorang staf biasa hingga menjadi wakil rakyat di tingkat nasional, perjalanan ini menjadi inspirasi bahwa keberhasilan adalah hasil dari konsistensi, dedikasi, dan komitmen melayani. Pengalaman panjangnya sebagai birokrat dan kepala daerah menjadi bekal kuat dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat, khususnya bagi pembangunan Sumatera Barat yang lebih maju dan berkeadilan.
Kisah Muhammad Shadiq Pasadigoe menegaskan satu hal: tidak ada mimpi yang terlalu tinggi bagi mereka yang bersedia memulai dari bawah dan melangkah dengan penuh kesungguhan. (*)
