Padang, akumalu.com – 4 April 2026, Fenomena meningkatnya tekanan sosial terhadap generasi muda tidak lagi menjadi isu daerah semata, melainkan telah menjadi perhatian nasional. Anggota DPR RI Komisi XIII Fraksi Partai NasDem, M. Shadiq Pasadigoe, menegaskan pentingnya langkah serius dan terintegrasi dalam menghadapi krisis sosial yang kini kian kompleks.
Berbagai kasus yang terjadi di Sumatera Barat, menurutnya, mencerminkan potret yang juga terjadi di banyak daerah di Indonesia. Mulai dari tren berbahaya di media sosial yang memicu korban jiwa, meningkatnya kekerasan dan dugaan pelecehan seksual dalam keluarga, hingga kasus bunuh diri akibat tekanan sosial dan persoalan pribadi.
“Ini bukan lagi sekadar persoalan lokal. Apa yang terjadi hari ini adalah refleksi kondisi nasional. Generasi muda kita sedang menghadapi tekanan multidimensi yang membutuhkan respons serius dari semua pihak,” ujar Shadiq.
Ia menilai derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola perilaku dan nilai di tengah masyarakat, yang tidak selalu diimbangi dengan kesiapan sistem sosial dan penguatan karakter generasi muda.
Dalam konteks tersebut, Shadiq menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, serta tokoh masyarakat dalam membangun sistem perlindungan yang komprehensif.
Sebagai anggota Komisi XIII DPR RI yang membidangi hukum dan hak asasi manusia, ia menegaskan bahwa pendekatan penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan upaya preventif berbasis edukasi dan penguatan nilai.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan penindakan. Negara harus hadir melalui kebijakan yang berpihak pada perlindungan generasi muda, termasuk penguatan literasi digital, pendampingan psikologis, serta revitalisasi nilai-nilai sosial dan budaya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, serta mendorong pemerintah daerah untuk lebih aktif dalam menciptakan ruang aman dan sehat bagi perkembangan generasi muda.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi 4 Pilar MPR RI (Alker 1) di Padang, yang turut menghadirkan tokoh adat, akademisi, dan perwakilan generasi muda. Forum ini menjadi ruang refleksi bersama atas perubahan sosial yang semakin cepat dan kompleks.
Shadiq menambahkan, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal mampu menjadi fondasi kuat dalam menjaga tatanan sosial. Namun, di era saat ini, pendekatan tersebut perlu diperkuat dengan kebijakan nasional yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Kalau dahulu tantangan masih bersifat lokal, hari ini kita menghadapi arus global tanpa batas. Karena itu, perlindungan generasi muda harus menjadi agenda nasional yang serius dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)
