Teheran – Kemarin, militer Amerika dilaporkan membombardir jembatan terbesar dan tertinggi di Iran hingga hancur, sebagaimana ramai diberitakan di akumalu.com. Serangan ini memicu kecaman karena dinilai sebagai pelanggaran hukum perang internasional. Di tengah sorotan tersebut, Donald Trump justru menunjukkan sikap bangga dan melontarkan ancaman lanjutan.
“Akan banyak lagi kehancuran berikutnya,” ancam Trump, “jika Iran menolak kesepakatan gencatan senjata sesuai proposal yang diajukan Amerika.”
Trump, sebagaimana juga Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dinilai mengabaikan hukum dan etika perang. Disebutkan, serangan awal bahkan telah menewaskan 168 anak perempuan di sebuah sekolah di Iran.
Iran pun bereaksi keras. Hingga saat ini, Iran diklaim tidak pernah menyerang sekolah di Israel maupun menargetkan jembatan sebagai objek serangan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa menyerang bangunan sipil, termasuk jembatan yang belum selesai dibangun, tidak akan memaksa Iran untuk menyerah. Menurutnya, tindakan tersebut justru menunjukkan kelemahan moral pihak penyerang.
“Setiap jembatan dan bangunan akan kami bangun kembali dengan lebih kuat. Namun, kerusakan pada reputasi Amerika tidak akan pernah pulih,” tegasnya.
Pernyataan serupa juga datang dari Mohammad Safa, yang baru saja mengundurkan diri sebagai Direktur Eksekutif Patriotic Vision di PBB. Ia mempertanyakan standar ganda dalam konflik internasional.
“Bayangkan jika Iran membom dan menghancurkan Jembatan Golden Gate di California, apa sebutannya? Terorisme,” ujarnya.
Ia menambahkan, tindakan Amerika yang menghancurkan jembatan di Iran tidak bisa dibenarkan dengan dalih perdamaian. “Bagaimanapun, membom jembatan adalah kejahatan perang,” tegas Safa, yang mundur dari PBB karena mencurigai adanya rekayasa terkait isu nuklir Iran.
Pertanyaan pun mencuat: apakah Amerika tidak memahami bahwa mereka mungkin bisa menghancurkan infrastruktur, tetapi tidak akan mampu mematahkan tekad sebuah bangsa?
Sejarah menunjukkan, Iran kerap bangkit dari keterpurukan dan menjadi lebih kuat. Sebaliknya, hilangnya kredibilitas dan moralitas Amerika dinilai sebagai kerusakan yang sulit diperbaiki. (*)
